ini semua makin mirip seperti gema di bibir lembah yang hanya bisa meneriakkan hal sama dengan apa yang diteriakkan. atau seperti resonansi suara lain yang ujung-ujungnya lebih mirip koor, bahkan bisa lebih gawat lagi jika seandainya terdapat sebuah corong pengeras suara yang mampu berteriak jauh lebih keras daripada si empunya suara.
soliloquy..
tak pernah terjadi interaksi.
pernahkah terbayang, alangkah indahnya ketika angin berbisik pelan menjawab gelak tawa laut dengan gulungan ombaknya. hening, namun magis dan penuh makna. atau ketika para makmum meneriakan ‘Amiiiin’ yang menyatakan kesejalanannya saat imamnya melantunkan ‘..waladdlooliiiin…’. atau saat pengacara berteriak ‘keberatan Yang Mulia!’ sembari ngelantur mengumbar bukti fiktif yang menjadikan ingkar sehalal alasan tapi masih bisa memberikan pandangan lain kepada sang Hakim, atau..
atau mungkin memang kamu benar, segalanya telah berbeda sekarang.
mungkin disana sudah tidak ada lagi reaksi kimia saat tangan kita saling menyentuh. lompatan listrik itu telah kehilangan dayanya ketika mata kita beradu. sensasi ribuan kupu-kupu yang dulu terbang dalam perutmu kini hinggap kelelahan diujung rasio kala nafas kita bersatu. dan akhirnya konsep ‘kita’ hanya akan menjadi sebuah konsep narsisme yang berkepentingan akan sebuah pengakuan tanpa ada ‘aku’ ataupun ‘kamu’.
sudahlah, mungkin kali ini kamu benar.
segalanya telah berbeda sekarang.
(bandung, 5th October 2008, 04.25am)

0 Responses to “soliloquy”